Sesetan Bergerak, Kebun Sayur Gantikan Lahan Mangkrak

Lurah Sesetan, Ketut Sri Karyawati saat berada di kebun sayur mayur - ADR

SEPETAK lahan seluas 3 are di wilayah Kelurahan Sesetan, Denpasar, Bali sempat dipenuhi semak belukar. Saat itu, area yang menjadi bagian Balai Diklat Pemprov Bali sangat tak terawat. Maklum saja, kegiatan di gedung itu terhenti gara-gara pandemi COVID-19.

Tapi bila dikunjungi hari ini, suasananya sungguh berbeda. Ilalang dan tanaman liar yang tumbuh tinggi telah diubah bak kebun agrowisata. Aneka ragam tanaman seperti terong, tomat, pisang cavendish, sereh, cabai, dan pepaya mulai tumbuh. Rencananya  akan ditambah dengan bibit lemon dan jeruk limo.

“Panen raya akan dilaksanakan sekitar 3 bulan lagi,” kata Lurah Sesetan, Ketut Sri Karyawati, Minggu (19/7/2020). Perempuan kelahiran 26 juni 1971 itulah yang pertama kali melirik lahan.

Staf Kelurahan digerakkan untuk memelihara sayur mayur di kebun yang memafaatkan lahan mangkrak di Kelurahan Sesetan, Denpasar – ADR

 “Sayang sekali waktu itu, karena saya lihat tanahnya cukup subur, dan saya sendiri suka berkebun, ” jelasnya. Daripada jadi sarang nyamuk, ia kemudian mengajak seluruh staf kelurahan untuk untuk melakukan kerja bakti membersihkan lahan.

Kondisi pandemi yang mulai memengaruhi kemampuan warga untuk memenuhi kebutuhan pangan juga mengusik benaknya. Keberadaan sayur mayur murah atau bahkan gratis, pasti akan sangat membantu dan bermanfaat bagi imunitas mereka.

Bak gayung bersambut, ide ini mendapat dukungan politisi asal Desa Sesetan, Ni Wayan Sari Galung yang membantu pengurusan izin pemanfaatan lahan ke Pemprov Bali. Anggota DPRD Bali juga ikut menyediakan 400 bibit tanaman. “Kami juga mendapat ratusan bibit dari alumni SMAN I Denpasar,” ujarnya.

Kini,  sisa lahan dari lokasi akan digunakan sebagai tempat pembibitan bersama Dinas Pertanian Pemerintah Kota Denpasar . Adapun hasilnya bakal dibagikan kepada warga.   “Jadi warga  bisa menanam di rumah masing masing minimal 3 macam sayur seperti cabai, tomat terong, atau lainnya,” jelasnya.

Adapun untuk keperluan menyangga dan membuat peneduh tanaman, pihak kelurahan memanfaatkan bambu-bambu bekas reklame yang sudah tidak terpakai. Sementara, ini tanpa pupuk, tanaman sudah mampu tumbuh dengan baik. “Kami sama sekali tak mengeluarkan anggaran khusus,” kata alumni S2 Universitas Udayana, Bali yang telah tiga tahun menjabat sebagai Lurah sejak tahun 2017.

Bibit tanaman ditumbuhkan dengan penuh kasih sayang dan kepedulian – ADR

Kelurahan Sesetan sangat terdampak pandemi COVID-19. Bahkan wilayah ini masuk dalam zona merah persebaran kasus dengan catatan total kasus per Minggu (19/7/2020) adalah 33 orang, 26 orang sudah dinyatakan sembuh dan 7 orang lainnya masih dalam perawatan di rumah sakit.

“Kami ingin menginspirasi warga, bahwa ada peluang yang masih bisa kita buat sampai pandemi benar-benar selesai. Tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” katanya.

Untuk pengelolaan harian, Kasi Pelayanan Umum Kantor Kelurahan Sesetan, Nyoman Seniawati yang diberi tanggungjawab mengkoordinirnya. “Saya antusias, karena ini hobi saya sejak kecil,” ujar perempuan berusia 52 tahun itu.

Sempat menjadi tanda-tanya, apakah mereka bisa bertani di perkotaan tanpa pengalaman sama sekali. Tapi Seniawati terus meyakinkan, bahwa semua orang bisa merawat tanaman asal penuh dengan kasih sayang. “Jadi ini bukan soal tangan dingin atau tangan panas yang kurang cocok menanam,” tegasnya. ( kanalbali/ADR )