Penyair di Masa Pandemi: Bertahan Hidup Seraya Berkontemplasi

Wayan Jengki Sunarta dengan salah-satu lukisan yang dihasilkannya pada masa pandemi COVID-19 - IST

“BPJS Kesehatan kok turun naik ya? Bulan lalu turun, sekarang naik lagi. Adeuhh,” tulis Wayan Jengki Sunarta di akun media sosial facebook-nya, Sabtu (4/7/2020). Sempat merasa lebih beruntung karena belum berkeluarga dan masih punya sisa tabungan, di masa pandemi COVID-19, ia pun akhirnya mengeluhkan biaya Jaminan Kesehatan itu.

Penulis 13 buku puisi, cerpen, novel, esai, artikel, dan ulasan seni yang merayakan ulang tahun ke-45 pada  22 Juni 2020 lalu itu tak menampik, pandemi COVID-19 adalah tantangan yang sangat berat.  “Semua pekerja seni, baik modern dan tradisi harus bersiasat agar tetap hidup. Kalau mereka punya profesi penunjang lain, akan lebih mudah bertahan hidup,” tegasnya. Sayang, alumnus Jurusan Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana  termasuk golongan yang hanya mengandalkan hidup dari berkesenian.

Pada masa ini, ia hanya bisa mengelus dada mendapati gugurnya sejumlah rubrik sastra mingguan yang menawarkan honor bagai penulis. Lebih sial lagi, puluhan lomba sastra dibatalkan.  “Tahun 2020 ini saya sebenarnya punya banyak “proyek”. Antara lain jadi juri, pembicara, narasumber, kurator. Sudah teragendakan. Semua akhirnya berantakan,” ungkap peraih Krakatau Award 2002 dari Dewan Kesenian Lampung dan Penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali (2007).

Wayan Jengki Sunarta dalam sebuah acara pembacaan puisi – dok.pribadi

Jengki bersyukur beberapa proyek tersebut dialihkan ke virtual alias online. Di antaranya undangan menjadi narasumber pendidikan literasi kepada guru Bahasa dan Sastra Indonesia. “ Dialihkan ke virtual saya pikir tidak masalah,” tandas penulis Amor Fati (2019) yang diterbitkan Pustaka Ekspresi.  

Ia  yang juga mengandalkan hidup sebagai kurator seni rupa menyebut semua lini kesenian berantakan karena pandemi . “Yang paling parah, mereka yang punya tanggungan keluarga cicilan, utang, dan jenis pengeluaran lain ,” ungkap pemilik akun instagram @jengki_sunarta itu.

 “Saya ada tabungan dan hidup dari sisa tabungan yang tidak seberapa. Syukurnya lagi saya masih jomblo, belum punya istri. Syukur satu dua tawaran jadi juri virtual datang pada saya. Artinya ada tambahan penghasilan,” tandas jebolan Sanggar Minum Kopi.

Bertahan sampai kapan tabungan itu bila pandemi terus berlanjut? Jengki menjawab hingga akhir tahun 2020. Dengan syarat tidak menderita sakit apapun. Di masa ini, dia juga terbantu dengan adanya dua kali bantuan sembako uluran tangan pihak swasta bertempat di Warung Tresni dan Penggak Men Mesri Kesiman, Denpasar.

Wayan Jengki Sunarta bersama seorang penggemar saat peluncuran salah-satu bukunya – dok.pribadi

Ironisnya, pria yang sempat mengikuti program Residensi Sastrawan Berkarya dari Badan Bahasa di Sabang, Aceh pada 2016 mengaku mengalami kebuntuan berkarya karena pandemi . Jengki memilih untuk tidak memaksakan diri dan menyadari kebuntuan itu adalah fase alamiah yang harus dilewatinya.

“Kita terbiasa dengan kepastian. Sekarang semua tiba-tiba pola ini dihancurkan. Semuanya menjadi sesuatu yang tidak pasti; menjadi gamang. Belum lagi ditambah dengan berbagai kekhawatiran yang dihembuskan berita-berita. Rasa khawatir saya berlipat-lipat,” ungkapnya.

Pengelola Jati Jagat Kampung Puisi ini menekankan bahwa dirinya sama sekali tidak khawatir pada kematian yang dinilainya sudah pasti. “Semua dihancurkan oleh ketidakpastian. Ini yang membuat orang-orang termasuk saya menjadi gamang, nelongso, uring-uringan, blunder. Menghadapi yang tidak pasti, kita jadi bingung. Karena efek ini saya menjadi sulit berkarya,” ungkapnya.

 Sadar mengalami goncangan psikologis, Jengki memilih melukis. Menulis tegasnya membutuhkan “ritual” khusus untuk mengolah ide dan konsentrasi. Baginya lebih mudah melukis ketimbang menulis. Dengan melukis Jengki mengaku bisa membebaskan batin. Sebaliknya, saat menulis dia harus memberangus batin agar fokus.

Wayan Jengki Sunarta (ujung kiri) dalam sebuah acara diskusi sastra – dok.pribadi

Menulis puisi, ujarnya tidak mudah. Satu puisi bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. “Kalau dipaksakan memang jadi bait demi bait, tapi saya tidak puas. Kalau saya melukis saya bisa membebaskan batin saya. Mau jadi apa terserah. Semacam ektase karena lukisan medium dan metodenya berbeda. Melukis membebaskan batin dalam konteks melukis ekspresionisme,” urainya.

Nyaris empat bulan tanpa karya, Jengki menumpahkan ekspresinya lewat sebidang kanvas. Dia melukis dirinya sendiri. Dia tak peduli ketika hasilnya disebut mirib Patimura, Marsinah, Pranita Dewi, atau siapapun. “Suka-suka saya,” tekannya.

Apakah situasi kegamangan atau wilayah abu-abu ini akan berujung karya suatu saat nanti? Jengki menjawab bisa jadi. Dia mengaku heran dengan orang-orang yang berlomba-lomba menulis puisi bertema Covid-19.

Penggak Men Mersi sebagai komunitas seniman dan pekerja kreatif menyalurkan bantuan sembako di masa pandemi COVID-19 dimana Jengki menjadi salah-satu penerimanya – foto : Rofiqi Hasan

“Kok bisa ya? Hebat. Tapi untuk kasus saya pribadi, itu mustahil. Mungkin saya sedang menyerap pengalaman, peristiwa, segala hal dari semua indra saya untuk direkam, direduksi, dikontemplasikan, dan suatu saat nanti akan muncul sebagai karya sastra. Entah cerpen, puisi, novel, atau kumpulan puisi. Mungkin tahun depan, atau tahun ini. Saya bukannya pasif, hanya saja saya tidak bisa menuliskan. Intinya saya menyerap. Lewat pemberitaan, ekspresi teman-teman, lewat obrolan, dan lain-lain,” rincinya.

Kenapa sulit menulis? Jengki menjawab karena peristiwa wabah Covid-19 lebih puitik dari puisi. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Perlu proses; perlu jarak. Jarak untuk membaca ulang peristiwa. “Kalau tiba-tiba dipaksa nulis puisi Covid, ya bisa-bisa saja sih. Bisa saja saya tulis, tapi sekali lagi saya katakan bahwa saya sudah tidak jujur. Makanya saya pilih menyerap, mengkristalisasi, dan saya yakin suatu saat jadi puisi,” sambungnya.

Jengki optimis akan ada fase indah menanti umat manusia dan dunia akan lebih asyik. Jengki mengaku optimis masih bisa berkarya dan berkesenian di masa-masa yang akan datang. Dia optimis tetap bisa berbuat sesuatu untuk orang banyak lewat tulisan.   ( kanalbali/Ngurah Surya )