Alien Child Tetap Berpendar di Masa Pandemi

ALIEN CHILD saat tampil di Festival Nusa Penida - foto : Facebook Alien Child

KECEWA boleh, tapi jangan lama-lama. Begitu yang menjadi prinsip duo remaja putri asal Nusa Penida, Klungkung, Bali, Alien Child. Semestinya, pada April lalu, Aya dan Lala Maranda tampil di ajang International Youth Day di Gedung Perserikatan Bangsa-bangsa, New York, Amerika Serikat. Tapi badai pandemi COVID-19 membuat acara itu dibatalkan.

“Padahal kami sejak Maret sudah di Jakarta untuk persiapan sekalian promo album kedua Euphoria,” kata Ketut Suarma, manager sekaligus orang tua dua anak itu, Kamis (23/7/2020).  Showcase tour itu mestinya dilangsungkan di 12 titik di Jabotabek.  Namun ketika baru berlangsung 8 titik, COVID-19 mulai berhembus sehingga 4 acara dibatalkan.

Nah, kekecewaan itu kini terobati dengan kepercayaan untuk menjadi co-leader proyek kolaborasi sejumlah musisi muda internasional dari berbagai negara dibawah naungan PBB dan lembaga  CREATE-2030. “Leadernya Lisa Russel, seorang pemenang Emmy Award.  Alien Child bertanggung jawab sebagai penulis lirik, pembuat melodi, dan sebagai music arranger,” tutur Suarma.

Poster tentang rencana penampilan Alien Child di International Youth Day di Gedung Perserikatan Bangsa-bangsa, New York, USA – IST

Begitulah. Masa Pandemi ternyata tak membuat kakak beradik asal Nusa Penida, Klungkung, Bali itu berdiam diri. Mereka justru makin bergairan berkarya dan mengembangkan kreasi. Memanfaatkan platform media sosial facebook, mereka merelease karya dan menyapa penggemar.

Mereka memproduksi musik dan aktif dengan program yg mereka beri nama “RedBoom Session”. Dengan program ini sudah ada dua single yang dirilis di youtube. Yakni,  ‘Feelin’ Dumb’ dan  single ‘Aku Bukan Keke’.

‘Feelin’ Dumb’ adalah ekspresi  perasaan yang campur aduk, termasuk kebosanan karena harus terus menerus di rumah. Mereka merasa Sedih dan kecewa karena tidak bisa live perform. Single kedua yang dilengkapi dengan video itu merupakan tantangan yang dibuat Suarma agar duo itu merespon Kekeyi, youtuber yang melejit namanya gara-gara dibully setelah dituduh menjiplak karya orang lain.

“Pesannnya, agar kita tidak gampang membully orang lain sekaligus mampu berkreasi dengan usaha sendiri,” kata Aya. Selain kedua single tersebut, Aya dan Lala juga terlibat  memproduseri  single kedua dari penyanyi anak-anak asuhan Ms Heny Janawati studio dari StaccatoBali. Rencanany, single oleh Zarra Apsara akan diriis setelah pandemic berakhir.

BACA JUGA :

Sebelum Pandemi melanda, Alien Child sudah melejit dengan sejumlah karya. Keduanya malah sering disebut sebagai remaja ajaib karena produktivitasnya. Aya yang lahir di Denpasar pada 19 Mei 2000,dan Lala Maranda kelahiran,  22 September 2001 di Denpasar, telah menunjukkan bakatnya di usia belia.

“Di usia  3,5 tahun, Aya menyaksikan penampilan seorang violinist terkenal Itzhak Perlman melalui televisi saat  kami masih tinggal di Kanada lalu minta dibelikan alat musik itu,” sebut Suarma. Mereka pun kemudian mencarikan guru les violin untuk mengasah bakat Aya.

Setelah beberapa bulan les violin kemudian guru violinnya menyarankan untuk ikut salah satu lomba violin di tingkat provinsi Bristish Columbia-Canada, dan langsung menyabet juara 1. “Di lomba-lomba berikutnya Aya menjadi perhitungan berat untuk peserta lainnya dan hampir setiap lomba violin selalu menjadi juara 1,” kenangnya.

Pada usia 7 tahun Aya juga menjuarai lomba nyanyi musical broadway, sembari mempelajari alat music lain seperti piano, gitar dan drum.  Sedangkan Lala mulai aktif mengikuti lomba nyanyi di usia 6 tahun dan juga langsung menyabet juara 1. Disamping lomba nyanyi solo, Lala juga mengikuti lomba musical broadway dengan kakaknya (Aya). Melalui duet tersebut mereka juga berhasil menyabet juara satu.

Bakat  mereka  terus terasah dan menghasilkan sejumlah karya awalnya dengan nama BTMDG singkatan dari Batu Madeg, desa kelahiran orang tuanya di Nusa Penida, Klungkung. Sejumlah lagu  yang berhasil ditelurkan yaitu Hometown, 1314, Happy Place, Gema Santi dan Thousands Of Candle For Peace.

Pada 2019, mereka berubah nama menjadi Alien Child dan membuat album pertama terdiri dari delapan lagu yakni Deef Breath, Leave Me Alone, Missing Parts, Talk To Me, Rise, Waves, Your Love dan Falling. Kemudian Album Kedua Euphoria, diluncurkan pada 2019  terdiri dari lagu berjudul  Side Effects, Insane, All The Bright Places, Avec Toi, Euphoria dan Moonlight.

 Setelah tamat SMA tahun lalu mereka memutuskan untuk menunda kuliah. Mereka ingin langsung berpraktek lewat karya musik. “Rencananya nanti akan melanjutkan kuliah di Kanada,” ucap Lala

Atas kreativitas mereka, pengamat musik Made Adnyana mengatakan, Alien Child sudah sangat menjanjikan sejak menyandang nama BTMDG pada 2015. “Mereka tumbuh dengan ide-ide bermusik yang pada awalnya tak bisa diduga,” katanya.

“Mungkin ada yang mengatakan musik Alien Child sangat segmented, memang benar. Namun itu tak mengganggu konsistensi kakak beradik ini untuk berkarya secara orisinil, ” kata Adnyana. Keputusan dan keberanian untuk memainkan musik yang mereka suka, membuat mereka tak terbebani oleh  trend yang sedang populer.

 Apa yang dimainkan selalu mengandung orisinilitas, bukan soal apakah orang lain suka atau tidak. Jika di awal kiprahnya mungkin terkesan hanya menuangkan ide dan meluapkan emosi. Tapi dalam 2-3 tahun terakhir Aya dan Laras mulai lebih terkonsep dan mempertimbangkan berbagai aspek dalam karya mereka.”Jarang ada musisi seumuran mereka yang bisa melakukan berbagai hal ini dengan baik,” tutur Adnyana.

Selain itu Alien Child juga mulai terbuka dan “berani” menerima tantangan dalam berkarya. Salah satunya ketika merespons puisi Imajinasi Senja karya Putu Fajar Arcana menjadi satu karya musikal yang apik. “Itu alasan Anugerah Musik Bali tahun ini memberi penghargaan kepada mereka,” kata Adnyana yang menjadi salah-satu juri pada ajang tahunan kompetisi bagi musisi Bali itu. ( kanalbali/Robinson Gamar/Rofiqi Hasan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.