Ketika Pandemi Mengusik Dialog Dini Hari

SEORANG pemuda yang tinggal di sebuah apartemen di Jerman suka rela tiap akhir pekan menggedor pintu ke pintu. Ia menawarkan bantuan bagi pasangan berusia di atas 40 tahun untuk berbelanja kebutuhan mereka tujuh hari ke depan. Berminggu-minggu dia melakoninya, agar para orang tua itu tak keluar rumah dan beresiko kehilangan nyawa karena tertular COVID-19.

“Aku benar-benar tergetar oleh cerita dari temanku itu. Bayangkan, di sebuah negeri yang kita anggap kapitalis ternyata ada yang seperti itu,” kata Frontman Dialog Dini Hari (DDH), Dadang Pranoto, pekan lalu.

Saat dia melihat di sekeliling, kisah-kisah inspiratif semacam itu pun bertebaran cukup banyak. Suatu kali, dia sempat berhenti di tepi jalan Mahendradatta, Denpasar, karena melihat orang ramai mendekat ke sebuah mobil. Tapi ternyata disitu ada seorang ibu yang sedang membagikan nasi bungkus gratisan bagi mereka yang membutuhkan. “Aku tersipu saat dia bilang, silahkan ambil kalau tak malu,” kata musisi kelahiran 13 Nopember 1978 itu.

Cover Single karya Cempaka Surakusumah

Dari situlah lahir lagu ‘Kulminasi II’ yang berkisah tentang kesadaran dan kebersamaan . Bagi dia, titik ini juga adalah sebuah kulminasi atau sebuah puncak dari situasi sulit yang membelit umat manusia. “Hari Ini , Kita paham tentang kematian, Tapi cinta terus tumbuh kembali di kehidupan”, begitu penggalan bait terakhir dari single yang telah diluncurkan awal April lalu.

Tentu saja ceritanya berbeda jauh dengan single ‘kulminasi I’ pada 2013 yang masuk dalam album Saman. Sebab, lagu itu bicara tentang cinta pada seseorang secara sublim dan egois sehingga di bait pertama, Dadang menulis, “Tuhanku pun pernah cemburu”.  

Pandemi memang teramat menggetarkan hati musisi berjuluk ‘Pohon Tua’ ini. Awalnya, saat virus mulai merebak di Wuhan, ia mengganggapnya hanya akan menjadi masalah yang akan segera lewat sebagaimana wabah flu burung dan SARS. Apalagi kemudian ada bumbu-bumbu soal konspirasi di balik pandemi.

Tapi saat virus makin luas jangkauannya hingga ke Eropa dan Amerika, barulah dia merasa akan sangat panjang dan lama dampaknya. Ia makin tersentak, setelah saudara dekat dari salah-satu personil DDH yang menjadi korban di Jakarta. ‘Saat itu aku benar-benar hanya bisa diam dan berhenti berkomentar atas apapun yang terjadi,” tegasnya.

Bersamaan dengan itu pula kehidupan mereka sebagai musisi mendapat pukulan telak.”Kami terakhir manggung itu di Makasar pada 7 Maret sebelum COVID ini semakin parah,” jelasnya. Praktis setelah itu semua agenda dibatalkan. Padahal seharusnya pada  Oktober 2020 ada jadwal manggung di Pasar Hamburg, Jerman.

Dadang mencermati, tiga krisis pelik kini terjadi, yaitu masalah kesehatan, ekonomi dan kejiwaan atau mentalitas.” Soal mental yang belum ada pihak yag memperhatikan dan seniman mestinya berada di wilayah ini,” katanya. “ Paling tidak kita bisa masuk ke wilayah keresahan mereka, dan membuat mereka tetap tegar,”ungkapnya.

Di tengah tekanan itu, ia sendiri  mencari cara untuk terus berkarya. “Aku yang paling tidak bisa diam, ide-ide mengalir terus. Dari sana aku mulai membuat keributan di grup whatsapp, memberi ide-ide baru untuk direalisasikan,” kelakarnya. 

“Banyak banget waktu luang. Nah kira-kira pertengahan Maret lalu, aku kirim skeching (rancangan) ke grup whattsapp lalu direspon oleh yang lain. Mereka bilang menarik, akhirnya berlanjut dan lahirlah kulminasi II,”jelasnya. Hasil penjualan single dan T-shirt sepenuhnya digunakan untuk menyelamatkan nasib 14 kru band yang terpaksa menganggur. Ada juga bantuan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis .

Cover mini album Setara karya Cempaka Surakusumah

Lagu ‘Garis Depan’ kemudian menjadi single kedua yang lahir di masa pandemi dari trio yang lahir pada 2008 ini. Berkisah tentang kehidupan tenaga medis yang harus mengambil resiko dalam menyelamatkan para pasien COVID-19. Syair dan nada-nada dalam lagu ini terdengar sangat provokatif untuk meminta dukungan bagi mereka.

“Idenya sederhana, bagaimana orang yang membantu orang lain harus di dukung. Lagu ini to the point ke tenaga medis,”katanya.  “Kalau pun terus percaya ada konspirasi, toh korbannya juga ada. Empati adalah hal sederhana yang seharusnya bisa diberikan kepada mereka,” lugasnya.

Dua lagu yang dihasilkan di masa pandemi itu kemudian digabungkan dengan single ‘Pemelukmu’ dan ‘Atas Nama Cinta’ dalam mini album yang diberi tajuk ‘Setara’. Pemelukmu sebenarnya adalah lagu lama. Bedanya, kali ini dinyanyikan oleh sang bassis Brozio Orah.

Personel Dialog Dini Hari: Dadang Pranoto, Brozio Orah dan Denny Surya – dok Dialog Dini Hari

Adapun hal yang baru dalam lagu ‘Atas Nama Cinta’ adalah keterlibatan  Lyta Lautner dari Soulfood dan Bonita dari Bonita and the Hus Band untuk mengisi vokal latar. Bonita merekam suaranya di rumahnya di Salatiga, Jawa Tengah.

Pandemi  yang mengharuskan hidup menjadi pelan, justru jadi pengalaman baru bagi tiga orang personil . Mereka memaksimalkan studio rumah masing-masing untuk merekam dan mengerjakan Setara. Pola rekaman jarak jauh, memang menjadi solusi.  

“Prosesnya lumayan lama, kami saling mengirim file, mixing, take vokal dan lain sebagainya dilakukan dari rumah masing-masing memaksimalkan apa yang ada,” lanjutnya yang juga adalah gitaris Navicula itu. Selama 4 bulan masa pengerjaan,  mereka nyaris tak pernah bertemu.  “Kami baru bisa ketemu itu kemarin ketika photoshot untuk media,”ungkapnya lagi.

Sang drumer, Deny Surya memegang peranan vital sebagai penata musik. Mulai dari mixing hingga mastering. Dengan segala sumberdaya dan teknologi di studio rumahnya, ia berhasil menciptakan kualitas sound yang mumpuni. “Tapi terus terang ada yang hilang dari proses ini, yakni kehangatan dan persahabtan,” sebut Dadang. Komunikasi tanpa tatap muka menghilangkan unsur emosi dan ekpresi sehingga kesalahpahaman pun kerap terjadi.   

Untuk berhubungan dengan fans pun mereka tak bisa leluasa lagi. Salah-satunya, konser harus dilakukan secara streaming seperti pada Sabtu (4/7) di Antida Sound Garden. Dadang berterus terang, sebenarnya dia merasa kebingungan saat menjajal teknologi itu. “Apalagi disini aku jadi vokalis yang harus berbicara dengan penonton,” katanya. Toh demikian, dia sadar, mereka harus beradaptasi selama vaksin belum ditemukan dan ancaman penularan masih mengintip kehidupan.

( Wibhi Laksana/Rofiqi Hasan )

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.