Kejahatan Siber Bisa Terjadi Karena Kelalaian Pengguna Internet

pixabay by Perfecto_Capucine

Kejahatan sejatinya dimanapun berada harus dilaporkan, baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Adji Srihandoyo, Businees Development Director Koperasi Jasa Tri Capital Investama (TC Invest) dalam Webinar Literasi Digital wilayah Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu 24 November 2021 mengatakan bila terjadi kejahatan di dunia siber kita harus melapor kepada institusi resmi.

“Masyarakat dapat melaporkan ke polisi jika mengalami berbagai jenis kejahatan siber tersebut yakni dengan datang langsung ke kantor polisi atau melalui www.Patrolisiber.id,” ujar Adji dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.

Ditambahkan juga oleh Adji bahwa jumlah pengguna internet telah mencapai 202 juta (73% dari jumlah penduduk Indonesia) yang didapat dari data kemenkominfo akhir 2020.

“Indonesia berada di peringkat keempat dunia terbesar jumlah pengguna internetnya, terkait kejahatan siber, Indonesia juga sudah memiliki undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE  (informasi dan transaksi elektronik),” imbuhnya.

Dari data Badan Siber dan Sandi negara (BSSN) mendeteksi ada 495 juga serangan sepanjang tahun 2020. Serangan siber ini diantaranya adalah penipuan, pornografi, terorisme, penyadapan,  ujaran kebencian, pencemaran nama baik  dan  pencurian data . “Kita menjunjung tinggi yang namanya norma-norma etika pornografi yang dapat merusak pola pikir,” tegas Adji.

Kejahatan siber ini bisa terjadi ternyata sebenarnya kembali kepada diri kita sendiri sejauh mana kita mengamankan data dan mengamankan jati diri kita serta mengamankan ID kita. Selain karena sistem keamanan yang lemah kasus cyber crime di Indonesia juga dapat terjadi karena kelalaian yang dilakukan oleh penggunanya sendiri.

BACA JUGA:

Generasi Milenial Ujung Tombak Demokrasi Digital

Salah satu kemungkinan yang menyebabkan Indonesia rawan terkena serangan siber adalah karena penggunaan software bajakan serta ketidaktahuan pengguna terhadap bahaya cyber crime. Saat ini sudah banyak perusahaan di Indonesia yang sudah menerapkan digitalisasi namun sayangnya tidak diimbangi dengan peningkatan sistem keamanan yang baik.

Terkait pelaporan, sebelum lapor siapkan dulu berkas kasus berupa bukti yang cukup misalnya berupa foto dan tangkapan layar atau video. Datang ke kantor polisi lalu menuju sentra pelayanan kepolisian terpadu untuk menyampaikan laporan dan bukti ke petugas.

Petugas kemudian akan menanyakan sejumlah pertanyaan terkait laporan. Selanjutnya pelapor menunggu perkembangan kasus. “Pastikan bapak Ibu juga walaupun untuk online tapi offline juga dengan datang ke polres setempat.”

Selain Adji juga hadir pembicara lainnya yaitu Qamaril Hazhiyah Adani, GM PT Giffers Odo Technology, Robertus Adi Sarjono Owon, S.Pd, M.Pd Guru SMPK Virgo Fidelis Maumere dan Fisca sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/kad)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.