Menimbang Media Sosial: Outlet atau Toilet?

pixabay by 200degrees

Berkembangnya dunia internet saat ini membutuhkan juga budaya digital yang harus dipahami oleh semua penggunanya. Menurut Dr Marselus Robot, M.Si, Dosen & Lektor Kepala, masyarakat kita sebagian belum cakap digital, belum cukup membaca sehingga berita tak benar dan gosip sering diterima begitu saja.

“Berkomunikasi menggunakan media sosial merupakan bentuk komunikasi di depan umum melalui sarana atau saluran digital. Jika dua orang melakukan mengirim pesan atau mengirimkan pesan melalui aplikasi, itu berarti, bukan dua orang saja yang terlibat, tetapi banyak orang. Karena berkomunikasi di tengah banyak orang, tentu harus mempunyai etika yang menjadi kaidah dan memilih hidup bersama dalam suatu masyarakat,” ujar Marselus dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa 27 Juli 2021.

Ia juga mengatakan kenyataannya adalah masyarakat mudah difitnah dan memfitnah. Kita seakan hidup di tengah orang orang kesurupan dengan prasangka stereotip dan klaim klaim.

“Suasana sosial mengalami turbulensi, remuk, saling mencurigai sebagai akibat hadirnya media digital. Dengan kata lain media sosial seperti hantu, media sosial patut dipertanyakan menjadi outlet atau toilet. Selain itu media sosial membuat narsisme baru. Dan interkontruksi oleh media sosial itu mempunyai risiko paling akut,” ujarnya dalam webinar yang dipandu oleh Tony Thamrin ini.

Lebih lanjut dikatakannya dalam masyarakat yang rentan dengan isu sara seperti ini yang paling naif ialah menyuburkan sikap fanatik kelompok berbasis identitas. Itulah sebabnya anggota non siswa berbasis media sosial paling sensitif bila dicubit atau dicubit oleh kelompok lain. Subjek subjek yang menjadi warga narsisme baru juga menginginkan balas dendam pada siapa saja yang menjadi menjadi rival.

Untuk itulah dibutuhkan budaya dan bahasa yang baik yang sesuai dengan konteksnya. Karena media sosial yang telah menyediakan ruang rangsang narsisme baru melalui FB WhatsApp YouTube Instagram dan sejenisnya menjelma menjadi kekuatan yang dapat meluluhlantakkan persatuan bangsa.

pixabay by pixel2013

Karenanya penting menerapkan etika berbahasa di media sosial dengan bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baik adalah penggunaan bahasa dalam komunikasi yang sesuai dengan konteks atau situasi. Konteks adalah lingkungan penutur (komunikator dan komunikan). Bahasa yang benar adalah bahasa yang digunakan sesuai kaidah-kaidah.

Bahaya lain dari dunia digital selain yang harus diwaspadai dan ditangkal dengan menerapkan etika dalam berinteraksi di dunia medsos adalah diretasnya data pribadi oleh pelaku kejahatan.

Seperti yang dikatakan oleh Teguh Kurniawan Harmanda, COO Tokocrypto bahwa perlindungan data pribadi sangat penting karena jangan sampai data-data kita dimanfaatkan oleh orang lain dan akhirnya kita sendiri yang rugi.

“Ada kutipan di Majalah The Conomist AS yang menyatakan saat ini data adalah minyak baru ekonomi digital karena prinsipnya data tidak ada habis-habisnya untuk dieksplorasi. Jika data itu diambil okeh pihak-pihak tertentu. Data adalah sumber berharga buat perusahaan-perusahaan. Data kita dimanapaun sangat berharga buat mereka untuk dijual ke pihak yang lain,” ujar Teguh.

Lebih lanjut dikatakannya sejauh ini dunia terus bergerak dan mengubah cara hidup kita. Dan rata-darat seseorang memeriksa ponsle mereka lebih dari 150 kali sehari. “Dan setiap kali kita mengunlock HP kita itu sebenarnya kita mengkontribusi data. Nanti dari pihak lain mereka melihat apa sih kebiasaan kita, ketahuan kita sering membuka HP di jam seginih, dan kita akan misalnya ditawari sesuatu. Contohnya Gojek kadang mengirim notifikasi ke orang dengan tulisan: ‘Apakah Anda lapar?’di jam setengah 12 menjelang makan siang,” katanya.

Hal ini merupakan bagian pihak perusahaan melihat kebiasaan kita dan ini menjadi penting. Di dunia dari data 2020 sudah terkumpul 40 ZB (Zeta Byte), 1 ZB sama dengan 1 Miliar Giga Byte. ”Semakin era digital memenuhi kehidupan kita makan data ini akan lebih besar lagi sehingga penting untuk kita melindungi data kita,” ujarnya.

Pengertian data pribadi adalah setiap data tentang seseorang baik yang teridentifikasi dan atau dapat diidentifikasi secaratersendiri atau dikombinasi dengan informasi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung melalui sistem elektronik dan atau non elektronik.

Teguh juga menjelaskan tentang etika penggunaan data pribadi di dunia digital Di antaranya adalah data pribadi seharusnya digunakan secara adil, sah dan transparan untuk tujuan tertentu dan eksplisit.

Selain itu data juga digunakan dengan cara relevan dan terbatas hanya pada apa yang diperlukan serta data tersebut haruslah akurat dan jika perlu terus diperbaharui.

Ada sejumlah tips perlindungan data pribadi di internet yaitu gunakan password yang sulit untuk akun yang dimiliki di internet dan gunakan password yang berbeda pada setiap akun.

Jangan memberikan data pribadi terlalu banyak di media sosial dan perhatikan juga alamat URL dari situs yang diakses, jangan sampai terjebak dalam situs palsu. Perhatikan juga akses yang diminta oleh aolikasi yang ter-install di ponsel atau komputer.

“Hati-hati jika menggunakan wifi di tempat publik dan jika mendapatkan link dari email pastikan bukan ke situs palsu yang bermaksud untuk phising,” katanya.

Selain Teguh dan Marselus, pembicara lain adalah Lia Arianti, Co Founder Momomaru Salmon Mentai, Dafina Jamasir sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/rls)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.