Mewaspadai ‘Split Personality’ dalam Pernikahan (2)

Photo by Sandy Millar on Unsplash
Photo by Sandy Millar on Unsplash

Semakin dekat hubungan seseorang dengan kita, semakin tinggi pula ekspektasi yang kita letakkan kepadanya. Dan semakin tinggi ekspektasi itu, semakin besar pula peluang munculnya kekecewaan.

oleh: Angga Wijaya

ADA hal lain yang menurut saya tidak kalah penting. Kita cenderung memiliki harapan paling besar kepada orang yang paling kita cintai. Kita tidak terlalu kecewa ketika seorang teman lupa mengucapkan selamat ulang tahun.

Namun, kita bisa sangat terluka ketika pasangan lupa menanyakan bagaimana keadaan kita hari itu. Kita tidak terlalu marah ketika tetangga lupa menyapa. Namun, kita merasa diabaikan ketika pasangan sibuk dengan telepon genggam saat kita sedang berbicara.

Semakin dekat hubungan seseorang dengan kita, semakin tinggi pula ekspektasi yang kita letakkan kepadanya. Dan semakin tinggi ekspektasi itu, semakin besar pula peluang munculnya kekecewaan.

Banyak pertengkaran rumah tangga sebenarnya tidak diawali oleh persoalan besar. Justru ia lahir dari harapan-harapan kecil yang tidak pernah diucapkan. “Saya kira kamu mengerti.” “Saya pikir kamu tahu.” “Aku berharap kamu peka.”

Kalimat-kalimat semacam itu sering muncul setelah pertengkaran terjadi. Padahal, sebelumnya tidak pernah ada percakapan yang benar-benar menjelaskan apa yang diharapkan masing-masing.

Kita berharap pasangan mampu membaca isi kepala kita, padahal tidak seorang pun memiliki kemampuan seperti itu. Lebih jauh lagi, penyebab ledakan emosi kadang tidak berasal dari pasangan sama sekali.

Bisa jadi sumbernya adalah tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, kurang tidur, kelelahan mengurus anak, trauma masa lalu yang belum selesai, atau bahkan luka-luka emosional sejak masa kanak-kanak.

Sayangnya, orang yang paling dekatlah yang sering menerima dampaknya. Saya kira inilah mengapa rumah semestinya menjadi tempat yang tidak hanya memberikan rasa aman secara fisik, tetapi juga aman secara emosional.

BACA JUGA: Mewaspadai ‘Split Personality’ dalam Pernikahan (1)

Rumah bukan sekadar bangunan dengan tembok dan atap. Rumah adalah tempat seseorang merasa diterima, bahkan ketika ia sedang tidak baik-baik saja. Di sinilah komunikasi menjadi jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kebutuhan materi.

Memberikan nafkah tentu merupakan tanggung jawab yang mulia. Memenuhi kebutuhan keluarga juga penting. Akan tetapi, hubungan tidak dapat dipelihara hanya dengan uang. Rumah tangga juga membutuhkan perhatian, percakapan, pelukan, canda, dan kesediaan mendengarkan.

Saya sering melihat pasangan yang duduk berdampingan di restoran, tetapi keduanya sibuk menatap layar telepon genggam masing-masing. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional. Pemandangan seperti itu kini terasa biasa. Padahal, mungkin itulah salah satu ironi terbesar kehidupan modern.

Teknologi memudahkan kita berkomunikasi dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya, tetapi pada saat yang sama justru menjauhkan kita dari orang yang duduk hanya beberapa puluh sentimeter di samping kita. Kita begitu cepat membalas pesan dari grup pekerjaan.

Namun, pertanyaan sederhana dari pasangan sering dijawab tanpa menoleh. Kita begitu mudah memberi tanda “suka” pada unggahan orang lain. Namun, lupa memberikan perhatian kepada orang yang setiap hari hidup bersama kita.

Barangkali, yang paling dibutuhkan sebuah hubungan bukanlah hadiah yang mahal atau liburan yang mewah. Yang paling dibutuhkan adalah perhatian yang utuh. Sebab, perhatian adalah bentuk cinta yang paling sederhana, tetapi juga yang paling sulit dipertahankan di tengah dunia yang penuh distraksi.

Ada satu kecenderungan lain yang saya rasakan semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir. Kita hidup pada zaman ketika hampir setiap persoalan ingin segera diberi nama. Sedikit berbeda, diberi label. Sedikit menyimpang dari harapan, langsung dianggap memiliki gangguan tertentu.

Media sosial ikut membentuk kebiasaan itu. Istilah seperti red flag, gaslighting, narcissistic, toxic relationship, hingga love bombing beredar begitu cepat. Tidak semuanya keliru. Justru banyak istilah tersebut membantu masyarakat lebih memahami kesehatan mental dan relasi yang tidak sehat. Namun, persoalannya muncul ketika istilah-istilah itu digunakan tanpa pemahaman yang memadai.

Akhirnya, setiap pertengkaran dianggap sebagai toxic relationship. Setiap pasangan yang mudah marah dianggap memiliki gangguan kepribadian. Setiap perubahan sikap langsung dicurigai sebagai sesuatu yang patologis.

Padahal manusia jauh lebih rumit daripada sekadar sebuah label. Diagnosis psikologis atau psikiatris bukanlah sesuatu yang dapat diberikan hanya berdasarkan satu atau dua perilaku. Seorang psikolog atau psikiater membutuhkan proses yang panjang. Ada wawancara, observasi, riwayat kehidupan, pola perilaku yang berlangsung lama, hingga berbagai pertimbangan profesional.

Sementara kita, pengguna media sosial, sering kali hanya melihat cuplikan kehidupan seseorang selama tiga puluh detik. Itulah sebabnya saya semakin berhati-hati menggunakan istilah split personality dalam tulisan ini.

Saya tidak bermaksud menunjuk suatu gangguan kejiwaan tertentu. Yang saya maksud adalah fenomena sosial yang mungkin pernah kita saksikan, misalnya seseorang yang tampak berbeda ketika berada di ruang publik dan ketika berada di ruang privat.

Mengapa itu bisa terjadi? Mungkin karena rumah adalah satu-satunya tempat di mana seseorang merasa tidak perlu lagi menjaga citra dirinya. Masalahnya, rasa aman sering disalahartikan sebagai kebebasan untuk melampiaskan apa pun.

Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat kita memulihkan diri, bukan tempat orang lain terluka oleh emosi yang gagal kita kelola. Saya teringat sebuah kalimat sederhana. “Orang yang paling mencintai kita sering kali menerima perlakuan yang tidak pernah kita berikan kepada orang lain.” Kalimat itu terdengar menyakitkan karena ada benarnya.

Kita menahan amarah kepada atasan karena takut kehilangan pekerjaan. Kita bersikap sopan kepada pelanggan karena menjaga profesionalitas. Kita ramah kepada tetangga karena menjaga hubungan sosial.

Tetapi kepada pasangan, kita merasa tidak perlu menjaga semuanya itu. Seolah-olah cinta akan selalu memaafkan apa pun. Padahal, setiap kata memiliki bekas. Bentakan mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, ingatannya dapat tinggal bertahun-tahun.

Ucapan yang merendahkan mungkin hanya terlontar sekali. Namun, luka yang ditinggalkannya tidak mudah hilang. Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah saling melukai.

Dua manusia yang hidup bersama pasti akan melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah kesediaan untuk memperbaikinya. Berani meminta maaf, mengakui kekeliruan, dan mendengarkan tanpa buru-buru membela diri.

Saya justru melihat bahwa kemampuan meminta maaf merupakan salah satu tanda kedewasaan emosional yang paling nyata. Meminta maaf tidak membuat seseorang menjadi lebih rendah.

Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa hubungan lebih penting daripada ego. Dalam banyak rumah tangga, pertengkaran sering kali tidak menjadi besar karena persoalannya, melainkan karena masing-masing sibuk mempertahankan gengsi.

Tidak ada yang mau menjadi orang pertama yang meminta maaf. Tidak ada yang mau mengalah. Padahal, mengalah tidak selalu berarti kalah. Sering kali, mengalah adalah cara kita memenangkan hubungan. Saya juga percaya bahwa hubungan yang panjang dibangun bukan oleh peristiwa-peristiwa besar, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari.

Mengucapkan selamat pagi. Mengabarkan ketika pulang terlambat. enanyakan apakah pasangan sudah makan. Mengucapkan terima kasih meskipun hanya karena secangkir kopi. Mematikan telepon genggam ketika pasangan sedang bercerita.

Mungkin semua itu tampak sederhana. Namun, justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah rasa aman tumbuh. Dan ketika rasa aman tumbuh, seseorang tidak lagi merasa perlu menjadi orang lain di hadapan pasangannya.

Ia tidak perlu berpura-pura kuat ketika sedang rapuh. Ia tidak perlu menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak takut dianggap lemah ketika menangis. Rumah akhirnya benar-benar menjadi tempat pulang. Bukan sekadar tempat singgah untuk tidur sebelum kembali menghadapi dunia keesokan harinya.

Pada akhirnya, saya kembali kepada keyakinan sederhana yang saya tuliskan di awal. Pernikahan yang sehat bukanlah pernikahan yang dipenuhi kata-kata romantis setiap hari. Bukan pula pernikahan yang selalu tampak mesra di media sosial.

Foto-foto yang indah tidak pernah mampu menjelaskan kualitas sebuah hubungan. Yang menentukan justru apa yang terjadi ketika kamera dimatikan. Ketika tidak ada lagi penonton. Ketika pintu rumah telah tertutup. Di situlah karakter seseorang benar-benar diuji.

Saya semakin percaya bahwa rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi dua orang untuk menjadi dirinya sendiri. Aman menyampaikan pendapat tanpa takut dicemooh. Aman mengakui kesalahan tanpa khawatir dipermalukan. Aman mengatakan, “Hari ini aku sedang lelah,” tanpa dianggap tidak bertanggung jawab. Aman menangis tanpa kehilangan martabat.

Rasa aman seperti itu tidak lahir begitu saja. Ia dibangun sedikit demi sedikit melalui kebiasaan sehari-hari. Melalui cara kita berbicara. Cara kita mendengarkan. Cara kita menyelesaikan perbedaan pendapat.

Cara kita memperlakukan pasangan ketika sedang kecewa. Saya sering berpikir, barangkali yang paling dirindukan setiap orang setelah menjalani hari yang panjang bukanlah rumah yang besar atau makanan yang mewah. Yang paling dirindukan adalah seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.

Seseorang yang tidak buru-buru memberi solusi. Tidak segera menyalahkan. Tidak membandingkan. Melainkan cukup berkata, “Aku mengerti mengapa kamu merasa seperti itu.” Kalimat sederhana semacam itu kadang memiliki daya penyembuh yang jauh lebih besar daripada nasihat yang panjang.

Saya juga menyadari bahwa tidak ada pasangan yang sempurna. Tidak ada suami atau istri yang selalu sabar. Tidak ada keluarga yang bebas dari konflik. Kita semua adalah manusia yang membawa pengalaman masa lalu, luka-luka kecil yang belum sepenuhnya sembuh, kelelahan karena pekerjaan, kecemasan tentang masa depan, dan berbagai harapan yang terkadang terlalu tinggi.

Karena itu, pernikahan bukanlah pertemuan dua orang yang telah selesai memperbaiki dirinya. Pernikahan justru mempertemukan dua manusia yang terus belajar. Belajar mengelola emosi.

Belajar mengendalikan ego. Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar mendengarkan. Dan, mungkin yang paling sulit, belajar memahami bahwa pasangan bukanlah musuh yang harus dikalahkan, melainkan teman seperjalanan yang sedang menghadapi pergumulannya sendiri.

Di tengah dunia digital yang membuat perhatian kita mudah terpecah, saya kira tantangan terbesar sebuah pernikahan bukanlah hadirnya orang ketiga. Tantangan terbesar justru adalah hilangnya percakapan.

Ketika makan bersama tanpa saling berbicara. Ketika liburan lebih sibuk membuat konten daripada menikmati kebersamaan. Ketika telepon genggam lebih sering kita tatap daripada wajah orang yang duduk di hadapan kita.

Hubungan tidak selalu hancur karena pengkhianatan yang besar. Kadang-kadang ia memudar pelan-pelan karena perhatian yang semakin berkurang. Karena sapaan yang semakin singkat. Karena tawa yang semakin jarang terdengar.

Mungkin itulah sebabnya saya lebih memilih mengakhiri tulisan ini dengan sebuah pertanyaan daripada sebuah kesimpulan. Sudahkah kita memberikan versi terbaik diri kita kepada orang yang paling kita cintai?.

Atau jangan-jangan, selama ini versi terbaik itu justru kita habiskan untuk orang lain, sementara pasangan hanya memperoleh sisa tenaga, sisa kesabaran, dan sisa perhatian?

Jika jawabannya masih yang kedua, barangkali belum terlambat untuk berubah. Sebab cinta, sebagaimana hubungan yang sehat, tidak bertahan karena kebetulan. Ia bertahan karena dua orang terus-menerus memilih untuk saling mendengarkan, saling menghargai, dan saling bertumbuh.

Akhirnya, saya merasa istilah split personality dalam judul tulisan ini hanyalah sebuah pintu masuk untuk mengajak kita merenung. Persoalannya bukan semata-mata tentang seseorang yang tampak berbeda di luar dan di dalam rumah.

Persoalannya adalah bagaimana kita menjaga agar rumah tetap menjadi ruang yang paling aman untuk menjadi diri sendiri, tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang yang kita cintai.

Sebab, ukuran sebuah pernikahan yang bahagia bukanlah seberapa banyak pujian yang kita terima dari orang lain, melainkan seberapa nyaman pasangan kita pulang kepada kita, setiap hari. ***

 

Denpasar, 6 Juli 2026

 

Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan esais. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

 

Apa Komentar Anda?