Berkah Roti Bandung di Musim Pandemi Corona

Ferdy Das (ujung kanan) bersama karyawannya saat menyiapkan roti Bandung - ROB

Jarum jam sudah menujukkan pukul delapan malam, namun kesibukan masih terlihat di salah satu rumah di Jl, Pulau Flores, Denpasar, Bali. Tiga unit oven berukuran besar tampak masih menyala. Dari sudut ruangan, deru mesin pengaduk adonan berbunyi kencang. Dibantu sang istri dan 5 orang karyawan, Ferdy Das , 42, terlihat sibuk menimbang adonan yang siap dipanggang sambil sesekali menengok ke arah oven. Pria pemilik usaha Diong Bakery itu rutin mengecek tingkat kematangan roti di dalam oven.

Seakan berlomba dengan waktu, Diong Bakery yang mulai berproduksi pukul 08.00 wita tak akan berhenti sampai tengah malam. Hal ini dilakukan untuk melayani permintaan yang terus meningkat dari hari ke hari.“Peminat roti bandung ini sangat tinggi selama masa pandemi. Kami sampai kewalahan melayani permintaan reseller,” tutur Ferdy.

Memproduksi roti bandung menjadi keseharian baru bagi Ferdy dan karyawannya sejak Maret lalu. “Ini seperti ‘kecelakaan’ sekaligus berkat di masa pandemi COVID-19,” kata bapak empat anak itu. Pada masa masa normal, Diong Bakery biasanya memproduksi roti untuk dipasok ke sejumlah hotel dan villa di Bali. Usaha yang sudah dirintis sejak tiga tahun silam itu menghasilkan beragam varian roti, mulai dari croissant, danish, france bread, sour dough, sampai ciabatta. Ia juga menerima varian roti lain sesuai permintaan. Ferdy bahkan telah menjalin kontrak selama dua tahun dengan sejumlah hotel dan villa.

Namun, semua berubah ketika pandemi COVID -19 melanda. Omzet menurun drastis, bahkan nyaris nol. Dampak dari COVID-19 mulai terasa pada Februari 2020 silam, saat Indonesia menutup akses penerbangan dari dan ke Tiongkok. “Waktu wisatawan Tiongkok berhenti datang, permintaan turun sampai 40 persen,” kenang Ferdy. 

Sejak penutupan akses penerbangan Tiongkok itu, kondisi semakin memburuk dari hari ke hari. Diong Bakery terpaksa berhenti berproduksi. Ferdy bahkan tidak dapat menagih pembayaran roti yang sudah dipesan sejumlah hotel yang nilainya hingga puluhan juta. “Jadi kalau di hotel atau viila itu kan bayarnya tiap 3 bulan atau sesuai perjanjian. Karena tamu sepi, pembayaran jadi macet. Kami tidak bisa paksa untuk bayar karena kami memahami kondisinya sedang turun,” kata Ferdy. 

Akibatnya, Ferdy pun terpaksa merumahkan karyawannya. “Waktu itu stress sudah pasti. Mau kerja lain, semua kondisinya sama,” terang Ferdy.Titik balik terjadi pada pertengahan Maret. Berawal dari mendapat pesanan khusus dari sebuah hotel berbintang lima di kawasan Sanur. Secara kebetulan, executive chef dari hotel tersebut berasal dari Bandung, Jawa Barat. “Saat itu dia mau mengubah menu breakfast dari biasanya pakai white and brown toast. Lalu saya bikin roti bandung 20 loaf sesuai pesanan,” kenang Ferdy.

Roti bandung memiliki tekstur dan bentuk yang khas, berbeda dari roti lainnya. Disebut roti bandung, karena roti ini memang awalnya populer di kawasan Bandung Jawa Barat. Biasanya, roti ini disajikan panas setelah diberi beragam isian dan dipanggang. Usai mengantar pesanan, Ferdy iseng menampilkan hasil produksinya di story WhatsApp miliknya. Ternyata ada yang merespon dengan memesan 400 buah roti. Sayangnya, ia tidak mampu memenuhi permintaan itu karena keterbatasan peralatan. Ia akhirnya hanya memenuhi permintaan 100 buah roti.

Melihat ada potensi besar, Ferdy meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah peralatan. Selain itu, dia juga memperluas pasar dengan mengunggah roti bandung produksinya di media sosial. Merambah pasar di media sosial membuat roti bandung buatan Diong Bakery akhirnya dikenal luas. Ia sampai kewalahan melayani permintaan reseller.

Ia mengaku sangat beruntung dan bersyukur dengan rezeki yang dihasilkan dari roti bandung buatannya. Omsetnya meningkat tajam dari hari ke hari. Kini Ferdy bisa mengantongi omset hingga Rp 3 juta dalam sehari. “Puji Tuhan, dengan produksi roti bandung masih bisa memperkejakan lima orang karyawan dan bermitra dengan belasan reseller,” kata Ferdy.

Pria kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur, ini berharap kondisi pariwisata Bali bisa kembali normal sehingga bisa kembali berpruduksi untuk memenuhi permintaan hotel dan villa. Walau demikian, Ferdy bertekad Diong Bakery akan tetap memproduksi roti bandung sebagai varian utama. “Kalaupun nanti kondisi sudah normal, saya akan tetap produksi roti bandung karena permintaannya tinggi dan sudah menyelamatkan saya dan keluarga di masa pandemi,” pungkasnya.

Yuvendy Nenomatau merasa tak kalah beruntung. Salah seorang karyawan Diong Bakery itu mengaku bersyukur masih bisa bekerja di tengah pandemi corona. “Waktu berhenti produksi sempat bingung mau cari kerja di mana. Mau pulang kampung juga sulit, ” kata pria yang akrab disapa Yuven itu. Ketatnya pengawasan lalu lintas orang antar pulau membuatnya mengurungkan niatnya pulang kampung. Saat dipanggil untuk bekerja kembali, ia merasa bahagia. “Saya merasa beruntung. Saat banyak teman yang nganggur, saya masih bisa ada kerja dan bayar cicilan, ” ucap Yuven.
( kanalbali/ROB )