Ketika ‘Burung Hantu’ Merajai Langit Bali

Nyoman Budi Astrina dengan layang-layang celepuk karyanya - WIB

SEMILIR angin pergantian musim telah berhembus di Bali sejak bulan Mei lalu. Pertanda musim layang layang telah tiba. Cuaca sore itu tampak cerah. Langit tampak biru dengan kerumunan layang layang beragam warna dimana desain bergambar burung hantu tampak mendominasi.

Celepuk, begitulah sebutannya. Ya, jenis layang layang ini  tiba tiba menjadi tren baru pada musim layang layang tahun ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana layangan Janggan berukuran raksasa menjadi simbol kebanggaan dan khusus dilombakan di pantai-pantai terbuka.

“Tak jadi masalah ukurannya berubah, yang penting masih bisa menerbangkan layang-layang,” kata seorang penghobi layang-layang Made Adhikara Nugraha. Di rumahnya, Ketewel, kabupaten Gianyar, Adhikara mengoleksi beragam layangan yang ia buat sendiri. Ia kerap kali menerbangkan layangannya bersama ayah atau pamannya. 

Layang-layang celepuk menjadi primadona saat musim pandemi COVID-19 – WIB

Di tahun-tahun lalu, ia sering kali mengikuti perlombaan atau festival layang-layang. Sebenarnya, kini pun ada lomba secara virtual dimana keahlian menaikkan layang-layang disiarkan menggunakan aplikasi untuk kemudian dinilai oleh dewan juri. Tapi, ia sama sekali tak berminat ikut serta. “Kalau lomba virtual nggak tertarik, feelnya beda. Di lomba virtual itu, kita tidak bisa merasakan serunya pas kita berlomba di tempat yang sama. Terlebih ini menghabiskan kuota internet,” ungkapnya.

I Made Budi Astrina, 33, juga adalah penghobi layang layang. Bedanya, tahun ini dia bukan cuma menyalurkan hobi, tapi juga  meraupdengan menjual layang layang karyanya.  Akibat pandemi COVID-19,  Budi kehilangan pekerjaannya di sebuah perusahaan jasa support even.

Beruntung, dengan kemampuan desain yang ia miliki, ia membuat berbagai jenis desain layangan celepuk. Di rumahnya yang terletak di Jl Nangka Selatan, Denpasar ia menunjukan berbagai jenis desain layangan.  “Celepuk memang lagi ngetren sekarang. Kalau tahun tahun sebelumnya, bebean atau kuwir,” kata dia. Dengan mencoba peruntungan itu, sedari awal Juni ia memasarkan produknya melalui media sosial, ia menamainya celepux. 

Tumbler pun dihiasi gambar layangan celepuk – WIB

Budi memilih mencetak gambar burung hantu di atas kain, daripada pewarnaan dengan teknik brush ataupun sublim warna. “Soalnya lebih ringan sih, dan cukup praktis,” jelasnya. “Dibandingkan kain parasut, kain tessa jauh lebih murah, biaya juga produksinya lebih sedikit,”ujarnya.

Saat mencetak desain, ia bekerja sama dengan salah seorang temannya di percetakan. Terdapat berbagai ukuran desain layangan celepuk yang ia buat. Paling kecil berukuran 1 meter yang ia jual seharga 80 ribu rupiah. Sementara ukuran paling besar yakni 3 meter, biasanya dijual Rp 315 ribu. “Itu untuk layangan yang belum jadi,”  “Kalau untuk yang sudah jadi layangan, saya membuatnya berdasarkan pesanan, nanti ada temen yang mengerjakannya, lebih banyak pembeli membuat kerangka layangan sendiri,” imbuhnya.

Kaos dengan gambar celepuk pun ikut laris manis – WIB

Tak ada perbedaan yang signifikan antara kain tesse dengan kain parasut ataupun kain yang biasa menjadi bahan layangan lainnya. “Saya tanya testimoni ke pembuat layangan, katanya juga bagus terbangnya juga baik, sama seperti bahan lain,”tandasnya.

Dari proses itu, ia mampu mendapatkan keuntungan mencapai 30 ribu rupiah per desain layangan. Jumlah yang cukup menggiurkan. Tak berhenti disana, ia juga membuat merchandise lain dengan tema celepuk, diantaranya kaos, tumbler, hingga gantungan kunci. “Yah biar bisa jadi side project aja sih, biar bukan musiman. Bisa saya kerjakan setelah sembari bekerja di tempat yang dulu kalau sudah normal lagi,” terangnya. 

( kanalbali/Wibhi Laksana/Komang Erviani)