Memilih Bendesa Saat Pandemi: Tak Boleh Voting, Tetap Cegah COVID

DENPASAR – 13 orang prajuru (pengurus) desa berkumpul di wantilan Pura Dalem desa adat Sesetan, Kamis (20/08). Mereka untuk menggelar Paruman Ngadegang Bendesa (Pemilihan Kepala Desa Adat – red).

Mereka adalah  9 orang klian banjar di seluruh desa adat Sesetan, satu orang pengurus desa, satu orang dari Saba Desa, satu orang Kerta Desa serta seorang pemangku (petugas Pura).

Berbeda dari pemilihan tahun-tahun sebelumnya, yang dilakukan dengan cara pencoblosan, kali ini pemilihan Bendesa itu dilakukan dengan musyawarah mufakat. Terlebih, kata Ketua Panitia Putu Meding Edi Gunarta, musyawarah pemilihan Bendesa ini merupakan pertama kalinya di Denpasar.

“Kami mengurangi jumlah utusan banjar-banjar dalam Paruman, menerapkan protokol kesehatan, dan menerapkan tahap-tahap permusyawaratan dalam Paruman”, ungkapnya. “Pelaksanaanya tidak sampai 2 jam, kita sebisa mungkin menghindari deadlock (kebuntuan) tapi untungnya berjalan dengan lancar,”terangnya.Ia berharap musyawarah ini bisa menjadi inspirasi pemilihan di desa adat lainya. “Pelaksanaan ini sesuai dengan Perda No. 04 Tahun 2019 dan surat edaran Majelis Desa Adat (MDA), tidak boleh ada kata pemilihan tetapi bermusyawarah untuk mencapai mufakat,”ungkapnya.

Hal ini dibenarkan Putu Wiarka, Kelihan Kertha Desa Sesetan, yang menyampaikan kerisauannya karena beberapa bandesa terpilih ditangguhkan pengukuhannya oleh MDA karena tidak menerapkan cara musyawarah secara penuh.

“Memang cukup sulit memulihkan semangat dan budaya musyawarah ini. Dalam dua dasawarsa setelah Reformasi krama Bali terbiasa dengan demokrasi elektoral melalui pemilihan legislatif, pemilihan presiden dan kepala daerah. Membulatkan suara peserta Paruman memerlukan kepemimpinan yang bijaksana dan otoritatif. Kami merasakan sulitnya mengembalikan salah satu jiwa dari kelembagaan Adat yang memiliki hak asal-usul ini”, tandasnya.

Terdapat dua calon yang mendaftar sebagai Bendesa pada periode ini, yaitu Made Widra dari Banjar Pegok dan Komang Gases dari Banjar Lantang Bejuh. Berdasarkan keputusan tim 13, Made Widra akhirnya didapuk menjadi Bendesa Adat Sesetan periode 2020-2025.

Bendesa terpilih Made Widra mengemukakan kedepannya, ia bersama prajuru lainya akan membenahi peraturan desa yang disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan khususnya yang terkait dengan Perda. Tentu banyak hal yang harus disesuaikan dengan kondisi ataupun situasi terkini di desa adat Sesetan. “Beberapa pekerjaan bendesa lama yang masih tertunda akibat pandemi COVID-19 akan kembali dilanjutkan,”tandasnya.

( kanalbali/WIB )