Menyemai Jazz Menjelang New Normal

Penerapan Physical Distancing juga dilakukan. Akibatnya, jumlah penonton sangat sedikit dibanding kapasitas tempat - RFH

Alunan musik jazz nan melodius memenuhi halaman Antida Soundgarden, Jl Waribang, Kesiman Denpasar, Kamis (2/7) malam. Balutan lembut saxofon, semakin mengkhidmatkan suasana. Para penonton jumlahnya tak lebih dari tiga puluh orang fokus menghayati live jazz yang disiarkan pula melalui kanal media sosial itu.  

Panggung live pertama sejak masa pandemi pada akhir Februari 2020 itu diisi penampilan ‘Straight and Stretch’ featuring Mia Samira dan ‘Koko Harsoe and Friends’. Protokol kesehatan ala new normal tak menyurutkan antusias para penonton.

Sebelum menonton wajib mencuci tangan dan mengenakan masker – RFH

Begitulah. Sebelum memasuki area, mereka diharuskan memakai masker melakukan pengecekan suhu tubuh dan cuci tangan. Saat menikmati pertunjukan, penonton juga saling berjarak. Para penampil memakai masker saat tampil. Di sela pertunjukan,  petugas menyemprot instrumen dengan disinfektan.

Konser berdurasi sekitar dua jam itu dikemas dengan solid. Penampil pertama, Straight and Stretch menampilkan lima buah lagu, dua diantaranya swing jazz karya Oscar Pettiford berjudul Bohemian After Dark dan Miles Davis dengan nomornya, Blue and Green.

Penyayi jazz kondang pulau dewata, Mia Samira juga ikut ambil bagian dalam pertunjukan ini. Bersama staight and Strech, ia menyanyikan tiga lagu milik musisi bossanova jazz asal Brazil, Antonio Carlos Jobim. Nomor-nomor pilihan seperti Inutil Paisagem, So Danco samba, dan ditutup dengan The Girl From Ipanema, sukses membuat penonton ikut bergoyang-goyang.

Mia Samira tampil bersama Straight and Stretch – RFH

Tak mau kalah, Koko Harsoe menyajikan permainan yang begitu epik.  Fusion jazz yang ia mainkan juga sukses membuat penonton terkesima.”Saya tadi membawakan lima lagu, dimana dua komposisi saya, yaitu Muma Story dan Singasari Swita. Selain itu saya juga membawakan lagunya Chik Corea yang Ethernal Child, Have You Heard dan Clair Song,” ujarnya seusai tampil.

Muma Story yang ia bawakan, meruapkan komposisi yang ia buat bredasarkan pengalaman pribadinya. “Ada seekor anjng yang sudah bertahun tahun berkeliaran di depan rumah saya, sudah berusaha saya rawat untuk jadi peliharaan namun tidak bisa. Ketika anaknya yang saya pelihara ia nampak sedih,”ungkapnya.

Di sela pertunjukan, peralatan pun disemprot disinfektan – RFH

“Acara ini menjawab rasa rindu kami setelah sekian lama vakum manggung. Kami sebagai pelaku seni merasa puas dengan gelaran ini,”ujar Yuri Mahatma, salah satu penggagas sekaligus gitaris dari Straight and Stretch. 

Persiapan acara cukup dua minggu saja.  Selama itu mereka berkonsultasi dengan Gugus Tugas COVID-19 untuk bisa menerapkan protokol kesehatan sesuai arahan dari Gubenur. Harapannya, gelaran ini bisa menjadi model untuk pemanggungan di masa new normal yang kabarnya di Bali akan dimulai pada 9 Juli 2020. Sayang, malam itu, tak seorang pun dari Gugus Tugas yang hadir. “Ya, mungkin dianggap belum penting,” kata Yuri

Acara ini difasilitasi PT. Ubud Vista Jafesindo dan Antida Musik yang dikenal sebagai organizer dari Ubud Village Jazz Festival, sebuah festival Jazz Internasional. Namun karena pandemi COVID-19, festival tahunan ini terpaksa di tiadakan, dan ditunda tahun 2021 mendatang.

Anom Darsana, menyebut, tak ada kesulitan berarti dalam menyelenggarakan konser ini, hanya saja jaringan internet harus kuat dan stabil. “Untuk internetnya kami sediakan secara khusus untuk konser, bukan publik,” ujarnua. Untuk streaming, kesulitannya menyesuaikan posisi kamera dengan angle gambar yang tepat agar ketika ditonton melalui gawai memuaskan.

Baik Koko maupun Straight and Strech, manggung dengan protokol kesehatan seperti memakai masker bukanlah hal yang mudah dan memerlukan banyak penyesuaian. “Kalau terus memakai masker ketika tampil memang cukup sulit, kadang-kadang tanpa sadar membukanya, apalagi saya tadi bermain harmonika,”ungkap Koko.

Konser juga disiarkan secara live streaming melalui akun facebook dan youtube – RFH

Bagi vocalis Mia Samira, soal masker itu lebih berat lagi. “Rasanya tidak mungkin deh, khan tak mungkin bisa keluar suaranya,” ujarnya. Masker, menurutnya, juga membuat suasana pertunjukan jadi berbeda karena penonton terlihat lebih serius padahal biasanya pertunjukkan ditujukan untuk bersenang-senang. “Kalau memang harus begini, ya kita nikmati saja,” ujarnya.  

Dari sisi penonton, pertunjukan juga cukup memuaskan. “Mungkin karena saya mencintai jazz dan rindu sekali panggung seperti ini,” kata Nayaka. Baginya, konser jazz ini menjadi ruang belajar dan mencari refrensi dalam bermain musik jazz.”Saya sama sekali tidak terganggu menggunakan masker, karena kita menikmatinya dengan telinga dan mata.  Kalau disuruh membayar pun saya akan tetap datang,”tandasnya.

Lain halnya dengan Indri, meski tak bisa datang ke lokasi, ia tetap menikmati konser ini melalui gawainya.”Saya baru mulai mendengarkan musik jazz selama dua tahun belakangan. Kalo nanti ada konser lagi saya usahakan datang, walaupun pakai tiket,”katanya. ( kanalbali/WIB )