DENPASAR, kanalbali.id – Kenaikan harga BBM Pertamax disebabkan karena melambungnya harga minyak dunia. Selain itu, Pertamax merupakan jenis BBM non subsidi sesuai yang dijelaskan dalam Peraturan Presiden No. 191 tahun 2014 Tentang Penyaluran, Pendistribusian dan Harga Eceran BBM.
Dalam Perpres tersebut, dijelaskan bahwa terdapat 3 jenis BBM disesuaikan dengan peruntukkannya yaitu Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) atau BBM bersubsidi seperti Biosolar, Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan yaitu Pertalite dan Jenis Bahan Bakar Umum atau Non Subsidi seperti Pertamax, Dexlite dan Pertamina Dex.
Harga Pertamax mengalami perubahan per tanggal 1 April 2022 dari Rp 9.000 per liter menjadi Rp 12.500 per liter. Kenaikan harga Pertamax dipicu oleh krisis geopolitik yang menyebabkan harga minyak dunia menjadi tinggi di atas US$ 100 per barel.
“Ini pun baru dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, sejak tahun 2019″, ujar Area Manager Communication & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Deden Mochamad Idhani.
BACA JUGA: Masuk Bursa Cabup Buleleng, Lanang Perbawa Sampaikan Terima Kasih
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
“Penyesuaian harga hanya berlaku untuk BBM Non Subsidi yang dikonsumsi masyarakat sebesar 17%, dimana 14% merupakan jumlah konsumsi Pertamax dan 3% jumlah konsumsi Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex. Sedangkan BBM Subsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebesar 83%, tidak mengalami perubahan harga atau ditetapkan stabil di harga Rp7.650 per liter,”
Penyesuaian harga ini, lanjut Deden, sebenarnya masih jauh di bawah nilai keekonomiannya. Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM, Agung Pribadi dalam keterangan tertulisnya menyatakan dengan mempertimbangkan harga minyak bulan Maret yang jauh lebih tinggi dibanding Februari, maka harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92 bulan April 2022 akan lebih tinggi lagi dari Rp. 14.526 per liter, bisa jadi sekitar Rp. 16.000 per liter.
Dengan demikian, penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp12.500 per liter ini masih lebih rendah Rp3.500 dari nilai keekonomiannya. “Ini kita lakukan agar tidak terlalu memberatkan masyarakat,” ujar Deden. (kanalbali/RLS?RFH)



Be the first to comment