Hati-hatilah Curhat di Medsos

pixabay by Peggy_Marco

BERDASARKAN data internetworldstats, pengguna internet Indonesia mencapai 212,35 juta jiwa pada Maret 2021. Dengan jumlah tersebut, Indonesia berada di urutan ketiga dengan pengguna internet terbanyak di Asia.

Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73, 7 persen.

Aktivitas berinternet yang paling digemari oleh pengguna internet Indonesia ialah bermedia sosial. Saat ini, ada 170 juta jiwa orang Indonesia yang merupakan pengguna aktif media sosial.

“Jumlah 170 juta ini cukup besar yang bisa menjadi peluang dan ancaman juga untuk teknologi dan  peluang untuk bisnis dan tantangannya adalah konten-konten yang ada kadang menyesatkan,” kata I Nyoman Laba Jayanta, S.Pd, M.Pd, Dosen Universitas Pendidikan Ganesha dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, Kamis 4 November 2021.

Lebih lanjut kata Nyoman Laba, selain itu ada ancaman lain di ruang digital seperti Hacker pencurian data orang lain masuk menjadi orang lain. Juga masih banyaknya hoax yang membahayakan. Dengan pertimbangan bahwa di Indonesia jumlah penduduk lebih banyak pada pada digital native dan digital immigrant. Walaupun mungkin anak muda di kelompok-kelompok digital native ini belum menjamin mereka paham tentang ketentuan dalam ruang digital.

Ancaman lain adalah keberadaan ujaran kebencian (hate speech). Sebab sering kita temukan masih banyaknya di kolom komentar yang memposting hal-hal negatif. Karena jumlah HP yang terhubung internet lebih banyak dari jumlah populasinya karena sekarang orang 1 orang bisa memiliki handphone lebih dari 1.

“Ancaman lainnya adalah munculnya perundungan (cyberbullying), Post truth, Pornografi, Konten Negatif, dan Pelanggaran Hak Cipta,” ujar Nyoman Laba dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.

Yuk Bangun Reputasi Positif di Media Sosial

Selain itu, kita wajib menerapkan etika di ruang digital agar menjaga jejak digital kita. Orang jaman dulu menempatkan jejak digital pada objek-objek yang mereka temukan misalnya di batu, tembok dinding di gua.

Mereka menggunakan informasi informasi kemudian pertama pengalaman-pengalaman karena peradaban mereka sejalan dengan perkembangan teknologi manusia saat itu. Dan kini sudah beralih menjadi pengalaman pribadi, kehidupan sosial apapun mereka akan dituangkan ke dunia digital baik itu di sosial medianya kemudian di halaman chatnya atau komentar dan lainnya.

“Postingan di media sosial menjadi sebuah hal yang lumrah dan di era dulu, anak-anak muda curhatnya ke teman-teman atau mungkin kalau dulu ada istilahnya buku diary sekarang di banyak wadah semisal konten dan profil perccakapan medsos,” bebernya.

Jadi berhati-hatilah memposting apapun di media sosial karena disanalah bisa ditemukan jejak kehidupan kita di era digital.

Selain Nyoman Laba juga hadir pembicara lainnya yaitu Gebryn Benjamin Lead Creative & Marketing Strategy, Tiara Maharani, Writer Correspondent Indonesia dan Rahmad Ramadhan sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.